Kondisi transportasi laut yang menjadi andalan utama masyarakat Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi memprihatinkan. Kondisi kapal tidak memadai dari sisi jumlah, daya angkut, keamanan, kenyamanan, dan kapasitas dermaga. Hal itu menghambat mobilitas manusia sehingga pergerakan ekonomi masyarakat menjadi lamban.
Di sejumlah daerah di Provinsi Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi Tengah, Senin (12/11), menunjukkan tidak efisiensinya perjalanan masyarakat di wilayah itu, dari sisi waktu dan biaya.
Penduduk di Pulau Makian dan Kayoa yang akan ke Pulau Bacan atau Obi, Maluku Utara, misalnya, harus pergi ke Ternate dulu. Akibatnya, jarak Makian dan Kayoa ke Bacan atau Obi yang hanya perlu waktu sekitar 3-5 jam, harus ditempuh sekitar 24 jam. Kapal yang langsung hanya ada seminggu sekali, tutur Adam (31), warga Kayoa.
Kondisi lebih sulit dirasakan penduduk Morotai, khususnya Morotai Jaya di utara pulau. Masyarakat mengandalkan kapal layar motor untuk belanja di Tobelo, ibu kota Halmahera Utara. Transportasi ke Tobelo lebih mudah dibandingkan jalan darat ke Daruba di Morotai Selatan.
Jika ada keperluan mendesak, tutur warga Daruba, Abdul Halil, masyarakat harus menyewa speedboat. Sewa dari Morotai Jaya ke Tobelo mencapai Rp 2 juta karena dihitung pulang pergi, dari Daruba ke Tobelo sekitar Rp 1 juta. Padahal harga tiket kapal layar motor dari Morotai Jaya ke Tobelo hanya Rp 50.000.
Namun, kapal penumpang dari Morotai Jaya ke Tobelo itu selalu dipadati penumpang. Nyaris tidak tersisa ruang untuk berbaring, penumpang hanya bisa duduk berdempetan. Tidak tampak pelampung di kapal itu.
Pada bulan November-Desember, perjalanan laut sangat mengkhawatirkan karena tinggi gelombang laut bisa satu meter di atas dek kapal.
Husen Ibrahim, Kepala Bidang Fisik dan Prasarana, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Maluku Utara, mengatakan, pemerintah berusaha menambah pelabuhan penyeberangan antarpulau. Selain yang sudah ada seperti di Ternate, Tidore, Sidangoli, Sofifi, Tobelo, Labuha, Daruba, Subaim, dan Kepulauan Batang Dua, juga akan dibangun pelabuhan di Saketa, Pulau Mangole, Pulau Taliabu, Sanana.
Perjalanan dengan kapal juga tidak nyaman. Warga Biak, Kabupaten Biak-Numfor, Alexander Kirihio, mengeluhkan fasilitas air bersih di kapal perintis maupun kapal motor penumpang.
"Penumpang melakukan perjalanan belasan jam tanpa ke kamar mandi, karena WC macet dan air tidak ada," kata Kirihio, menuturkan kondisi pelayaran di kawasan pantai utara Papua.
Hal serupa dikeluhkan Johnson Ohoiwirin, warga Agats, Kabupaten Asmat. Penumpang kapal motor sekelas KM Kilimutu harus menyewa kasur, karena tempat tidur di dek tidak berkasur.
Minimnya sarana transportasi laut di perairan Sulawesi Tengah mengakibatkan perekonomian masyarakat mandek. Hal itu dikatakan Achmad Buluan, pengusaha di Banggai Kepulauan.
Bun Go (48), pengusaha dan pengamat maritim di Bangkep, mengatakan, kendala transportasi menyebabkan sebagian besar hasil laut Bangkep sulit dipasarkan ke daerah lain oleh nelayan maupun pengusaha di Bangkep. Hasil laut akhirnya dikuasai para tengkulak dari provinsi lain yang membeli ikan dari nelayan di tengah laut. Akibatnya, harga ikan kerapu segar yang mestinya Rp 20.000 per kilogram, terpaksa dilepas separuh harga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar